Laman

Kamis, 02 Agustus 2012

PANDANGAN KYAI TERHADAP MODERNITAS



PANDANGAN KYAI TERHADAP MODERNITAS
Oleh: Hariadi, S.Ag., M.Pd[1]
I.                   PENDAHULUAN
Moderenisasi ditandai oleh kreaktifitas manusia dalam mencari jalan mengatasi kesulitan hidupnya di dunia ini. Sungguh ini, modernism, khususnya seperti yang ada di  Barat, adalah suatu antroposentrisme yang hampir tak terkekang (Madjid:2000). Selanjutnya  Madjid (2000) menguntip pendapat Arnod Toynbee, seorang ahli  sejarah yang terkenal, mengatakan bahwa modernitas telah mulai sejak menjelang akhir abad ke lima belas masehi, ketika orang barat “ berterima kasih tidak kepada Tuhan tetapi kepada dirinya sendiri karena ia telah berhasil mengatasi kungkungan Kristen abad pertengahan”.
Keberhasilan dunia modern dalam memenuhi keinginan manusia untuk memudahkan segala urusannya akhirnya menggelinding ke seluruh penjuru dunia, termasuk di dalamnya dunia Islam yang sebelumnya belum tersentuh oleh dunia modern sebagaimana di Barat yang pada umumnya masyarakatnya beragama Kristen. Dengan demikian mau tak mau masyarakat Islam dituntut harus mensikapinya secara bijak agar tidak tertindas oleh gelombang modernitas dan sekaligus juga agar tidak hanyut begitu saja.
Salah satu anak kandung dari modernitas adalah pesatnya perkembangan teknologi yang dengan kecanggihannya bisa meringankan segala kebutuhan manusia secara cepat dan akurat. Misalnya, kita bisa mengambil contoh perkembangan teknologi informasi yang dengan hardware dan software yang canggih dapat melahirkan era globalisasi yang ditandai cepatnya transportasi informasi dari suatu tempat ( Negara, wilayah ) lain secara tepat. Sehingga peristiwa yang sedang berlangsung di suatu belahan dunia akan dapat di tonton oleh masyarakat di seluruh dunia. Ilustrasi ini menggambarkan betapa hebatnya dunia modern sekarang, amat berbeda jauh dengan keadaan dunia sebelum dunia modern lahir.
II.                Hakekat Modernitas
Menurut Arkoun, istilah modernitas berasal dari bahasa Latin modernus –pertama kali dipakai dunia Kristen pada masa antara tahun 450 dan 500 yang menunjukan perpindahan dari masa Romawi  lama ke periode Masehi ( Putro : 1998). Terlepas dari kapan modernitas itu lahir, yang perlu digaris bawahi adalah hakekat modernitas yang sebagaimana di sampaikan oleh Lucian  W.Pye
      “…………it is based on advanced technology and the spirit of science on a rational view of life, a secular approach to social relations, a feeling for social justice in public affairs, and above all else, on the acceptance in the political realm of the belief that the prime unit of the polity should be nation-state ( Madjid : 2000)
Mengomentari hakekat modernitas tersebut, Madjid (2000) mengatakan, “….. jelas sekali mengandung unsur-unsur budaya dan pengalaman Barat, seperti misalnya, konsep negara bangsa, selain unsur-unsur yang memang universal seperti ilmu dan teknologi”. Dan semua nilai –nilai universal itu akan ditranformasikan ke seluruh penjuru dunia dengan canggihnya informasi, yang pada akhirnya tiada tempat di dunia ini tanpa sentuhan modernisasi. Akibat lanjutanya, dalam proses modernisasi pada suatu negara akan terjadi dialog antara nilai-nilai lama dan nilai baru.
Pengalaman negara-negara maju menunjukan bahwa masyarakat modern ditandai pula pesatnya perkembangan industri bagi berbagai kebutuhan hidup manusia. Dimana dalam masyarakat industrial modern akan membawa konskuensi munculnya nilai-nilai baru, Pertama, rasionalisme. Dalam kaitanya dengan agama, sejumlah nilai yang berkembangnya rasionalisme akan menyebabkan dipertanyakanya sejumlah nilai yang berkembang dari doktrin-doktrin agama.Kedua,ialah sekularisme,yang berarti mengecilnya wilayah agama yang kemudian hanya terbatas pada soal-soal pribadi dan keluarga, dan sama sekali doktrin-doktrin agama itu menjadi tidak releven dengan kehidupan bermayarakat dan bernegara. Ketiga, ialah terdesaknya nilai-nilai idealism oleh pragmatism, nilai-nilai kebersamaan oleh individualisme, nilai-nilai sacral ( suci) oleh profan (duniawi).( Mughni:2001). Nilai-nilai tersebut masih di ikuti dengan budaya meterealisme,hendonisme dan konsumerisme yang menjangkiti seluruh kehidupan umat manusia.
Bila dilihat dari sudut berkembangnya nilai-nilai yang tumbuh dalam masyarakat industrial modern itu, dalam kaitanya dengan dunia pendidikan, maka Mughni ( 2000) mensinyalir ada dua tantangan pokok yang mungkin di hadapi oleh dunia pendidikan islam adalah: Pertama , bahwa lembaga-lembaga pendidikan formal agama, seperti Madrasah Ibtidhaiyyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Aliyah (dalam bentuk yang sekarang ini) akan semakin kehilangan daya tariknya bagi masyarakat. Karena mereka memiliki anggapan pengetahuan agama tidak menjanjikan masa depan material yang cukup untuk mengikuti arus budaya modern. Kedua, ialah pendidikan agama di sekolah umum juga semakin kurang diminati oleh pelajar/mahasiswa. Hal ini disebabkan oleh pandangan anak didik bahwa sukses di mata pelajaran agama tidak akan ikut menentukan karir pendidikan dan kehidupan selanjutnya di masa depan.
Betapa beratnya tantangan dunia modern, sehingga seperti hampir tiada waktu untuk berfikir bagaimana bersikap. Kita baru mencoba untuk memikirkan sikap yang bijak terhadap suatu kejadian yang diakibatkan oleh modern, tetapi ditempat dan waktu yang bersamaan sudah muncul kejadian lain yang tak kalah hebatnya. Ini semua membutuhkan setrategi yang jitu dalam bersikap sehingga itu tidak terlindas oleh gelombang modernism dan sekaligus dan tidak pula hanyut begitu saja, tetapi kita bisa mengikuti dan mengawalnya sehingga kehidupan kita agar tidak tercerabut dari akar budaya kita dan akar agama masing-masing tentunya.
III.             Pandangan Kyai Terhadap Modernitas
Secara umum, menurut Harahab masih banyak Ulama’ (Kyai) yang memandang bahwa moderinisasi sebagai penyebaran system kepercayaan (idiologi) asing yang berasal dari non-muslim dan sekaligus dipandang sebagai pemberian terhadap pengaruh mereka (Ulama’). Lebih dari itu modernisasi dipandang sebagai westernisasi dan sekulerisasi, akibatnya reaksi yang diberikan ‘Ulama (Kyai) adalah oposisi, sebab modernisasi dipandang bi’ah yang mengancam, bukan hanya posisi ‘Ulama (Kyai), tetapi juga institusi-institusi Islam lainya. ( Harahab:1994)
Lain lagi pendapat Nasr (1993), ketika menganalisis tanggapan kaum Muslimin terhadap modernitas, ia mengatakan ada tiga kemungkinan reaksi kaum Muslimin yang dapat dilihat menyangkut kesadaran terhadap tantangan barat dan keinginan untuk meresponya. Yang Pertama, selalu mencoba kembali kepada “ kesucian” sejarah awal Islam berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan Hadis. Kelompok ini mengusulkan bahwa sebaiknya kaum muslimin mengesampingkan seluruh perkembangan peradaban Islam yang bersifat seni dan filsafat,serta gaya hidup kota besar yang serba mewah,mudah,dan serba tidak peduli di dalamnya. Pembenahan ini,menurut mereka akan memperkuat Islam sebagaimana awalnya. Kemungkinan kedua, disebutkan bahwa Islam harus dimodifikasi atau di modernisir agar dapat mengakomondasikan dirinya menghadapi serangan barat dengan pandangan dunia, filsafat dan idiologinya sendiri. Kemungkinan ketiga,bertahan sesuai dengan makna hadist bahwa akan datang suatu hari ketika penindasan mengalahkan keadilan dan kebenaran Islam akan mengabur bersamaan dengan datangnya Imam Mahdi dan akhirnya akan terjadi kiamat.(Nasr.1993)
Sejauh menyangkut dengan kelompok pertama, akarnya dapat dilihat di dunia Islam itu sendiri, saat kebangkitan tokoh-tokoh seperti Muhammad ibn’Abd Al-Wahhab di Arab, yang berusaha kembali dengan penuh disiplin ketat pada interprestasi yuridis ajaran Al-Qur’an dan Hadits.Penganut interprestasi Al-Qur’an semacam ini biasanya dalam bahasa inggris disebut “pembaharuan fondementalis” walaupun istilah fundementalis tidak benar-benar sesuai dengan kontekes yang biasa dipakai, khususnya dengan makna baru fundeantalis yang lahir pada dekade terakhir.
Kelompok kedua, yang kemudian dikenal dengan kelompok “modernis” atau “pembaru modernis” mencangkup para pemikir dengan spektum lebih luas dengan yang berusaha menyebarkan gagasan nasionalisme kedunia islam ketika gagasan ini berkembang di Eropa yang menuntun lahirnya para teoritisi pertama dalam bidang nasionalisme yang bukan hanya nasionalisme Arab, tetapi juga Turki dan Iran pada akir abad ke 19 dan awal abad 20.
Sedangkan kelompok yang ke tiga,ialah mereka yang mempunyai harapan terjadinya peristiwa-peristiwa eskatologis, juga ditemukan cukup banyak di dunia Islam kemunculan sejumplah tokoh pada abad ke 13/ke -19 yang menyatakan diri sebagai Mahdi atau gerakan menuju Mahdi dan yang memulai gerakan relegius dengan kosekuensi  besar baik secara politis maupun religius.
IV.             PENUTUP
Apapun reakasi umat Islam, khususnya para Ulama’nya terhadap modernitas dengan kenyataan yang demikian itu  justru dunia yang sedang dikuasai oleh modernism, bila membicarakan tentang hal-hal spiritual bukanlah perkara mudah. Mungkin akan dinilai sebagai pembicaraan yang relevan dengan kehidupan,atau lebih celaka lagi dipandang sebagai pembicaraan tentang kepalsuan.
Tetapi jika kita memiliki cukup kesediaan untuk memahami dan mengakui keadaan sekeliling kita, maka pembicaraan tentang problem masyarakat modern dari segi kesulitan orang-orang modern (Barat) untuk menemukan makana hidup pribadi, sebagaimana layaknya manusia yang tidak hanya berdimensi jasmani tetapi juga memiliki dimensi rahani (spiritual), maka sebenarnya kebutuhan terhadap kehadiran agama (spiritual) adalah suatu keniscayaan bagi dunia modern, agar manusia modern dapat menutup kekurangan pada sisi rohaniahnya. Pada akhirnya manusia modern akan mendapati dirinya sebagai pribadi yang lengkap.
Demikian juga bagi umat Islam, tak ada waktu lagi menolak modernitas, karena dalam kehidupan kesehariannya, khususnya dalam pelaksanaan ibadahnya, dengan sadar atau tidak  juga memanfaatkan hasil kemajuan dunia modern. Sehingga modernitas tak perlu ditakuti, tetapi harus dijadikan pendukung dalam melaksankan perintah agama ddengan berpedoman kaidah fiqiah,”al-Muhafadlotul qodimil sholeh wa ahdu bi jadidil ashlah”.


DAFTAR PUSTAKA
Harahab, Syahrin.1994.Al-Qur’an dan Sekulerisasi:kajian kritis terhadap Pemikiran Thoha Husein.Tiara Wacana, Yogyakarta
Madjid, Nurcholish.2000. Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis Tentang Musalah,Keimanan,Kemanusiaan,Dan Kemodernan,Paramadina,Jakarata
Mughni, Syafiq.2000,Nilai-Nilai Islam: Perumusan Ajaran dan Upaya     Aktualisasi,Pustaka Pelajar,Yogyakarta
Nasr,Seyyed Hossein,1993, Menjelajah Dunia Modern,Mizan,Bandung
Putro, Suadi,1998,Muhammad Arkoun tentang Islam dan Modernitas,Paramadina,Jakarta


[1] Penulis adalah Dosen tetap STAI Ngawi.